Raja Boga Bali

Standar Pengemasan Daging Babi Beku

Standar pengemasan daging babi beku melibatkan beberapa aspek penting untuk menjaga kualitas dan keawetan produk. Daging babi beku harus dikemas dalam wadah kedap udara, seperti plastik vakum atau wadah kedap yang dilapisi aluminium foil, untuk mencegah kontaminasi dan menjaga suhu tetap stabilSuhu penyimpanan juga harus dijaga pada -18°C atau lebih rendah untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme. 

Berikut adalah beberapa standar pengemasan daging babi beku yang perlu diperhatikan:
  • Wadah Kedap Udara:
    Pilih wadah yang dapat mencegah udara masuk dan keluar, seperti kantong vakum atau wadah yang dilapisi aluminium foil, untuk mencegah freezer burn dan menjaga kualitas daging, menurut Michigan State University.
  • Suhu Pembekuan:
    Daging babi beku harus disimpan pada suhu -18°C atau lebih rendah untuk memastikan pertumbuhan bakteri dicegah, menurut Raja Boga Bali.
  • Pelabelan:
    Kemasan harus diberi label yang jelas berisi informasi produk, seperti jenis daging, berat bersih, tanggal produksi, dan tanggal kedaluwarsa, menurut Raja Boga Bali.
  • Penyimpanan:
    Simpan daging beku di area terpisah dalam freezer untuk menghindari kontaminasi silang dengan produk lain, menurut Dapur Umami.
  • Penanganan:
    Hindari membekukan kembali daging yang sudah dicairkan untuk menjaga kualitas dan keamanan produk, menurut Dapur Umami.
  • Durasi Penyimpanan:
    Daging babi beku dapat disimpan hingga 6 bulan di freezer jika disimpan pada suhu yang tepat dan dikemas dengan benar, menurut Tirto.id 
Penanganan daging sebelum dibekukan akan menentukan kualitas daging beku. Pelayuan daging dan pengemasan merupakan faktor-faktor yang harus diperhatikan sebelum melakukan pembekuan. Pada pelayuan daging terjadi denaturasi protein yang 11mengakibatkan keempukan daging meningkat, tetapi sebaliknya water holding capacity (WHC) daging menurun yang mengakibatkan susut masak (cooking lost) meningkat (Lawrie, 2003). Lama pelayuan daging sebelum dibekukan akan meningkatkan jumlah cairan daging segar (weep) dan cairan daging beku (drip) yang keluar pada saat pencairan kembali (thawing). Kondisi ini dapat berdampak pada penurunan kandungan nilai gizi dalam daging yang ikut terlarut dalam drip (Lawrie, 2003).
Sumber : chromeextension://efaidnbmnnnibpcajpcglclefindmkaj/https://repositori.unud.ac.id/protected/storage/upload/repositori/98bad8abac3af123859e6366c1af3af2.pdf
PT.RajaBoga Jaya Nusantara
Whatsapp : 0812 2882 4882
Instagram : @rajaboga.id

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *