Raja Boga Bali

Permintaan Daging Babi Beku Sektor Horeka Dan Manufaktur

Tren permintaan daging babi beku di sektor HORECA (Hotel, Restoran, dan Katering) dan manufaktur di Indonesia umumnya dipengaruhi oleh tingginya minat konsumsi di wilayah non-Muslim, meningkatnya tren kuliner non-halal, ketersediaan pasokan, dan potensi penggunaan dalam produk olahan manufaktur seperti sosis dan bakso. Namun, skala permintaan domestik secara keseluruhan masih relatif kecil dibandingkan dengan konsumsi daging lain karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam.

Berikut adalah tren dan faktor yang memengaruhi permintaan:
Sektor HORECA (Hotel, Restoran, Katering)
  • Fokus pada Kuliner Non-Halal :
    Permintaan signifikan datang dari restoran dan hotel yang melayani wisatawan asing, etnis Tionghoa, dan kalangan masyarakat lainnya yang mengonsumsi daging babi. 

  • Tren Gastronomi :
    Munculnya tren kuliner dan makanan yang menggunakan daging babi sebagai bahan utama mendorong peningkatan permintaan di sektor ini. 

  • Ketersediaan dan Keunikan :
    Daging babi beku menawarkan kemudahan penyimpanan dan ketersediaan pasokan untuk kebutuhan HORECA yang membutuhkan konsistensi dan stok bahan baku. 

  • Harga Kompetitif :
    Harga daging babi yang relatif lebih rendah dibandingkan daging sapi dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi sektor HORECA. 

Sektor Manufaktur 
  • Produk Olahan :
    Daging babi digunakan sebagai bahan baku dalam produk olahan seperti sosis, bakso, dan produk olahan daging lainnya.
  • Kebutuhan Industri :
    Sektor manufaktur memiliki permintaan yang cukup besar untuk daging babi beku untuk memenuhi produksi produk olahan yang lebih luas.
  • Spesialisasi Produk :
    Ketersediaan potongan daging babi beku yang spesifik dapat dimanfaatkan untuk membuat produk olahan dengan tekstur dan cita rasa yang diinginkan.
Faktor yang Mempengaruhi Permintaan
  • Demografi dan Budaya :
    Mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, yang membatasi konsumsi daging babi secara luas. Namun, ada segmen populasi tertentu (misalnya, etnis Tionghoa) yang memiliki konsumsi signifikan. 

  • Ketersediaan Pasokan :
    Ketersediaan babi hidup dan pasokan daging babi beku memengaruhi harga dan dapat mendorong peningkatan permintaan. 

  • Harga :
    Perbandingan harga daging babi dengan daging lainnya, seperti daging sapi, menjadi faktor penentu permintaan. 

  • Kunjungan Turis :
    Pertumbuhan pariwisata, terutama di daerah seperti Bali, dapat meningkatkan permintaan daging babi dari sektor HORECA untuk melayani wisatawan. 

Secara keseluruhan, meskipun permintaan daging babi beku di Indonesia tidak sebesar daging sapi atau ayam, sektor HORECA dan manufaktur tetap menjadi pendorong utama konsumsi, didukung oleh segmen populasi tertentu dan tren kuliner yang berkembang.
PT.RajaBoga Jaya Nusantara
Whatsapp : 0812 2882 4882
Instagram : @rajaboga.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *